Arusdaerah.com,Batang Hari- Gejolak agraria kembali pecah di ujung Kecamatan Mersam. Ratusan warga dari lima desa – Mersam, Kembang Tanjung, Teluk Melintang, Sengkati Kecil, dan Sungai Puar – kompak mengklaim lahan perkebunan kelapa sawit yang selama ini dikuasai PT Inti Agro Anugerah (IAA) dan PT Inti Citra Agung (ICA) adalah milik sah Kelompok Tani Mersam Jaya.
Klaim berani ini mencuat setelah warga menilai kedua perusahaan tersebut beroperasi tanpa kejelasan hukum.
“Selama ini lahan di seberang itu diakui perusahaan, padahal izinnya tidak jelas. Sekarang lahan itu sudah banyak digarap warga Mersam sendiri. Kami duga perusahaan ini sudah merugikan negara karena membuka lahan tanpa izin resmi di wilayah kami,” tegas Daus, tokoh warga Mersam, Minggu (25/10/2026).
Daus membeberkan fakta lapangan yang mengejutkan. Praktik jual beli lahan antar warga sudah marak terjadi dan sebagian besar area telah ditanami sawit oleh masyarakat.
“PT IAA dan ICA ini sudah lama pergi meninggalkan Mersam. Dulu mereka sempat dapat izin lokasi dari Pemkab Batang Hari seluas 750 hektare, tapi faktanya yang mereka tanam cuma 150 hektare. Sisanya sudah diduduki dan dikelola warga,” bebernya.
Ancaman lebih keras datang dari Heri, anggota Kelompok Tani Mersam Jaya. Ia memastikan kelompoknya akan segera mengambil alih dan menggarap lahan sengketa tersebut.
“Lahan yang masuk kelompok kami, Kelompok Tani Mersam Jaya, itu sekitar 500 hektar. Itu termasuk kebun yang selama ini diakui perusahaan. Kami akan segera menggarapnya. Kami akan bentuk tim untuk mendata siapa saja yang sudah memperjualbelikan lahan itu, dan akan kami laporkan ke pihak yang berwajib,” tegas Heri.
Penelusuran tim Media Arusdaerah.com di lapangan menguatkan klaim warga. *PT IAA tercatat tidak memiliki kebun aktif maupun Hak Guna Usaha (HGU) di Kecamatan Mersam. Luas resmi kebun PT IAA di Mersam adalah 0 hektare.
Perusahaan ini hanya bermodalkan Izin Lokasi pada sekitar tahun 2010, yang kini telah kedaluwarsa. Proyek kebun gagal total karena ditolak mentah-mentah oleh petani padi. Warga di 9 desa Mersam menolak sawah produktif mereka seluas lebih dari 1.000 hektare diubah menjadi kebun sawit swasta.
Karena gagal membebaskan lahan, PT IAA akhirnya angkat kaki.Namun, muncul dugaan dengan modus ganti baju. PT IAA yang bernama Indonesia Aromatic Agro diduga kuat satu grup dengan PT ICA (Inti Citra Agung). Buktinya, lokasi mes karyawan, pembibitan, dan areal operasional keduanya berada di titik yang sama di Desa Sengkati Kecil.
Setelah IAA mandek (2008-2014), estafet dilanjutkan ICA (2012-sekarang) dengan mengantongi izin lokasi baru 7.800 hektare dan sempat berganti nama menjadi PT CIA. Namun konflik tetap berlanjut, termasuk sengketa dengan Kelompok Tani Anugerah Rimbo Berkuang soal janji kemitraan 50:50 yang tak pernah ditepati.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen PT IAA/ICA belum memberikan keterangan resmi.(Tim)
No comments yet.